Dukung Istana Dalam Loka Sumbawa Disatukan dengan Masjid
Istana Dalam Loka ( The Old Palace ) yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III (sekitar tahun 1885 M) diharapkan dapat disatukan kembali dengan Masjid Nurulhuda Sumbawa.
Istana ini merupakan dua bangunan kembar ditopang oleh tiang kayu besar sebanyak 99 buah, sesuai dengan sifat Allah dalam Al – Qur’an (Asma’ul Husna). Di istana Dalam Loka ini juga terdapat ukiran bermotif khas daerah Samawa sebagai ornamen pada kayu bangunannya.
Di bagian Barat dari istana tua ini berdiri kokoh Masjid Nurulhuda yang dulunya menyatu dengan kompleks istana. Namun belakangan ini dua bangunan peninggalan sejarah tersebut telah dipisahkan oleh jalan raya serta beberapa bangunan rumah penduduk.
Kondisi ini mengundang harapan warga Sumbawa untuk mengembalikan keadaan istana seperti sedia kala, yakni menyatukan kembali istana Dalam Loka dengan Masjid Nurul Huda.
Keinginan ini tergambar melalui komentar-komentar yang disampaikan facebooker menanggapi status Wakil Gubernur NTB, Badrul Munir yang dituliskan dalam grup facebook Rungan Samawa, Jum’at (16/9) lalu.
“Bagaimana sebaiknya agar Istana Dalam Loka semakin menarik dan punya daya pikat global sebagai objek wisata sejarah Tana Samawa,” tulis wagub dalam statusnya.
Para facebooker setuju jika istana Dalam Loka disatukan dengan Masjid Nurulhuda, dengan cara menutup jalan pemisah halaman, membebaskan rumah di dalamnya, termasuk kantor Damri dan SMP Ma’arif.
Disamping itu juga perlu dibuat pagar yang sesuai dengan nilai arsitektur Samawa dan Istana Dalam Loka dijadikan sebagai Pusat Studi Kebudayaan Samawa dengan segala aktivitas seni dan budayanya.
Ahmad Zuhri Muhtar dalam komentarnya mengaku dirinya pernah mengusulkan gagasan itu pada pemerintahan Bupati Sumbawa, Yakob Koswara.
“Saat itu SMP Maarif sudah diambil alih oleh Pemkab Sumbawa dan ditukar dengan gedung yang sekarang bekas SKP ( samping Perusda ) tetapi nggak tahu kenapa batal,” kata budayawan yang akrab dipanggil Bang Mek ini.
Dia berharap Pemkab Sumbawa dan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) dapat bertindak proaktif dalam mengemplementasikan keinginan tersebut.
Andi Rusdi menyatakan dukungannya agar jalan pemisah antara istana Dalam Loka dengan Masjid Agung Nurul Huda dijadikan satu area tanpa pemisah.
Menurut aktifis KNPI ini, penyatuan istana Dalam Loka dengan Masjid Agung Nurul Huda sangat penting untuk mengembalikan cerminan filosofi ‘ADAT bersendikan SARA, SARA bersendikan KITABULLAH’.
Sebenarnya, kata Andi Rusdi, filosofi ini sudah diaplikasikan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dalam bentuk mutakhir dengan membangun Kantor Bupati yang menghadap ke Masjid Agungnya di kawasan Kemutar Telu Center (KTC).
Sementara itu, salah seorang Pengurus LATS, Sunan Khairani mengaku, pihaknya sudah mendiskusikan hal ini bagaimana caranya supaya istana Dalam Loka dan Masjid Jami’ Nurul Huda bisa dijadikan obyek wisata budaya dan religi.
Namun untuk melakukan pembebasan lahan terhadap bangunan-bangunan yang ada di halaman istana tentu harus dilakukan melalui pendekatan-pendekatan yang bersifat manusiawi.
Dan bukan kapasitas LATS untuk melakukan upaya pembebasan lahan istana Dalam Loka, tegas Sunan Khairani.
“LATS baru saja terbentuk dan menjadi pemahaman kita bersama bahwa yag melakukan action tentulah bukan kapasitas LATS. Tidak ada wewenang LATS untuk melakukan tindakan gusur-menggusur,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Pengurus LATS lainnya, Syukri Rahmat.
Dipaparkan, sebenarnya saat mudzakah Rea 2011 beberapa waktu lalu, Bupati Sumbawa Jamaluddin Malik telah menjanjikan akan membantu proses pembebasan rumah-rumah yang ada di sekitar Dalam loka.
“Dan yang saya tahu bupati telah membentuk tim khusus untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hanya saja sampai sejauh mana kerja Tim, kami belum paham. Kami berharap pada pak wagub sebagai Tau Samawa sekaligus mewakili pemerintah propinsi NTB, supaya bisa lebih intensif melakukan komunikasi dengan bupati Sumbawa. LATS, betapapun harus jujur dari sisi kebijakan apalagi anggaran tidak mampu untuk itu. LATS sementara ini tidak pegang anggaran,” kata Syukri Rahmat.
Dan satu hal lagi, tambahnya, sampai sekarang pengelolaan Istan Dalam Loka masih tanggungjawab pemerintah kabupaten melalui dinas teknis.
Dia sepakat perlul mendorong pemerintah untuk segera merealisasikan dan mengkongritkan pembebasan rumah-rumah yang ada di sekitar istana Dalam Loka, sekaligus penataannya.
Dalam diskusi hangat di media sosial facebok ini, Wakil Gubernur NTB, Badrul Munir mengajak semua pihak untuk membagi peran masing-masing.
“Pemkab Sumbawa urus pembebasan lahan dan rumah di komplek Dalam Loka, sedangkan biaya pembangunannya biarkan pemprov NTB yang tanggung berapapun besarnya. Dan hal-hal teknis yang berkaitan dengan budaya, merupakan tugas LATS bersama masyarakat. Saya tidak perlu terlibat karena saya bukan ahlinya dan juga tidak punya kompetensi kebudayaan. Saya hanya tak ingin peradaban kita Samawa hilang, sehingga dicap pendusta sejarah. Samawa harus eksis di pentas global,” kata wagub.
Mulai tahun 2012, sambung wagub, dirinya bersama jaringan akan menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan proyek besar tersebut.
ISTANA DALAM LOKA SUMBAWA ASET WISATA SEJARAH
Sumbawa Besar, 5/4 (ANTARA) - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan kawasan Istana Dalam Loka yang merupakan peninggalan Kesultanan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, akan dikembangkan sebagai aset wisata sejarah.
"Keberadaan istana ini memberikan petunjuk bahwa para Sultan Sumbawa dulu telah membangun sebuah istana yang kuat dan mampu bertahan lama," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik dalam sambutannya yang disampaikan Staf Ahli Bidang Multikultural Kembudpar Hari Untoro Drajat di Sumbawa Besar, Selasa.
Pada upacara penobatan Sultan Sumbawa ke-17 Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang dipusatkan di masjid Jami Nurul Huda Sumbawa Besar, ia mengatakan bangunan bersejarah Istana Dalam Loka ini mengandung kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Sumbawa.
Karena itu, kata dia, pemerintah pusat melalui Kembudpar memberikan apresiasi terhadap upaya pelestarian warisan budaya. Sejak tahun 2004 melalui kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang sudah dilakukan pemugaran Istana Dalam Loka.
Ia mengatakan, istana yang dibangun dengan kayu jati ini merupakan salah satu bangunan yang mampu bertahan lama. Karena itu kawasan Istana Dalam Loka yang telah direnovasi akan dikembangkan sebagai aset wisata sejarah.
Menbudpar mengharapkan peninggalan bernilai sejarah ini tetap dipelihara karena merupakan warisan budaya bangsa yang harus tetap dipertahankan.
Menurut dia, Kesultanan Sumbawa memiliki sejarah yang panjang dalam kancah percaturan sejarah bangsa. Kalau ditelusuri dari sisi kesejarahan dengan berbagai dinamikanya, kesultanan ini telah ada jauh sebelum masa sejarah kolonial Belanda.
Dia mengatakan, pada masa penjajajahan, Kesultanan Sumbawa ini tetap eksis dan terus melestarikan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat Sumbawa.
"Nilai-nilai adat dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat ini menjadi kebanggaan kita semua. Karena itu peristiwa budaya penobatan Sultan Sumbawa yang digelar sekarang hendaknya dijadikan tonggak sejarah bagi masyarakat Indonesia khususnya Sumbawa," katanya.
Masyarakat Sumbawa sejak masa lalu hingga kini selalu mengedepankan kehidupan masyarakat yang beraneka ragam atau multikultur.
Keanekaragaman suku, bangsa, agama dan latar belakang budaya terdapat di daerah ini. "Jagalah keragaman ini dengan baik agar kehidupan yang penuh toleransi terus dijaga dalam keberagaman yang tetap harmonis," katanya.
Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH M Zainul Majdi menilai penobatan Sultan Muhammad Kaharuddin IV menjadi Sultan Sumbawa ke-17 merupakan peristiwa yang sarat nilai spritual.
"Prosesi penobatan diawali dengan pembacaan ayat Suci Al Quran hingga pembacaan doa. Ini amanah yang sangat berat dan hendaknya bisa diemban dengan baik," ujarnya.
Penobatan Sultan Sumbawa ini, menurut dia, berbeda dengan pengambilan sumpah seperti yang berlaku pada tata pemerintahan, tetapi lebih pada pelestarian nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat "Tau dan Tana Samawa".
Dalam konteks tersebut, katanya, bupati tetap menjadi kepala pemerintahan dan hendaknya Sultan dan bupati dapat berkolaborasi dengan baik.
Penobatan ini juga bisa menjadi mediasi antara Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat sehingga dapat menjadi mitra yang baik.
Gubernur Zainul Majdi mengharapkan upacara penobatan ini dapat mewujudkan "Tau dan Tana Samawa" yang religius dan demokratis, sebab tantangan ke depan semakin besar. (*)
Menurut aktifis KNPI ini, penyatuan istana Dalam Loka dengan Masjid Agung Nurul Huda sangat penting untuk mengembalikan cerminan filosofi ‘ADAT bersendikan SARA, SARA bersendikan KITABULLAH’.
Sebenarnya, kata Andi Rusdi, filosofi ini sudah diaplikasikan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dalam bentuk mutakhir dengan membangun Kantor Bupati yang menghadap ke Masjid Agungnya di kawasan Kemutar Telu Center (KTC).
Sementara itu, salah seorang Pengurus LATS, Sunan Khairani mengaku, pihaknya sudah mendiskusikan hal ini bagaimana caranya supaya istana Dalam Loka dan Masjid Jami’ Nurul Huda bisa dijadikan obyek wisata budaya dan religi.
Namun untuk melakukan pembebasan lahan terhadap bangunan-bangunan yang ada di halaman istana tentu harus dilakukan melalui pendekatan-pendekatan yang bersifat manusiawi.
Dan bukan kapasitas LATS untuk melakukan upaya pembebasan lahan istana Dalam Loka, tegas Sunan Khairani.
“LATS baru saja terbentuk dan menjadi pemahaman kita bersama bahwa yag melakukan action tentulah bukan kapasitas LATS. Tidak ada wewenang LATS untuk melakukan tindakan gusur-menggusur,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Pengurus LATS lainnya, Syukri Rahmat.
Dipaparkan, sebenarnya saat mudzakah Rea 2011 beberapa waktu lalu, Bupati Sumbawa Jamaluddin Malik telah menjanjikan akan membantu proses pembebasan rumah-rumah yang ada di sekitar Dalam loka.
“Dan yang saya tahu bupati telah membentuk tim khusus untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hanya saja sampai sejauh mana kerja Tim, kami belum paham. Kami berharap pada pak wagub sebagai Tau Samawa sekaligus mewakili pemerintah propinsi NTB, supaya bisa lebih intensif melakukan komunikasi dengan bupati Sumbawa. LATS, betapapun harus jujur dari sisi kebijakan apalagi anggaran tidak mampu untuk itu. LATS sementara ini tidak pegang anggaran,” kata Syukri Rahmat.
Dan satu hal lagi, tambahnya, sampai sekarang pengelolaan Istan Dalam Loka masih tanggungjawab pemerintah kabupaten melalui dinas teknis.
Dia sepakat perlul mendorong pemerintah untuk segera merealisasikan dan mengkongritkan pembebasan rumah-rumah yang ada di sekitar istana Dalam Loka, sekaligus penataannya.
Dalam diskusi hangat di media sosial facebok ini, Wakil Gubernur NTB, Badrul Munir mengajak semua pihak untuk membagi peran masing-masing.
“Pemkab Sumbawa urus pembebasan lahan dan rumah di komplek Dalam Loka, sedangkan biaya pembangunannya biarkan pemprov NTB yang tanggung berapapun besarnya. Dan hal-hal teknis yang berkaitan dengan budaya, merupakan tugas LATS bersama masyarakat. Saya tidak perlu terlibat karena saya bukan ahlinya dan juga tidak punya kompetensi kebudayaan. Saya hanya tak ingin peradaban kita Samawa hilang, sehingga dicap pendusta sejarah. Samawa harus eksis di pentas global,” kata wagub.
Mulai tahun 2012, sambung wagub, dirinya bersama jaringan akan menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan proyek besar tersebut.
ISTANA DALAM LOKA SUMBAWA ASET WISATA SEJARAH
Sumbawa Besar, 5/4 (ANTARA) - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan kawasan Istana Dalam Loka yang merupakan peninggalan Kesultanan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, akan dikembangkan sebagai aset wisata sejarah.
"Keberadaan istana ini memberikan petunjuk bahwa para Sultan Sumbawa dulu telah membangun sebuah istana yang kuat dan mampu bertahan lama," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik dalam sambutannya yang disampaikan Staf Ahli Bidang Multikultural Kembudpar Hari Untoro Drajat di Sumbawa Besar, Selasa.
Pada upacara penobatan Sultan Sumbawa ke-17 Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang dipusatkan di masjid Jami Nurul Huda Sumbawa Besar, ia mengatakan bangunan bersejarah Istana Dalam Loka ini mengandung kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Sumbawa.
Karena itu, kata dia, pemerintah pusat melalui Kembudpar memberikan apresiasi terhadap upaya pelestarian warisan budaya. Sejak tahun 2004 melalui kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang sudah dilakukan pemugaran Istana Dalam Loka.
Ia mengatakan, istana yang dibangun dengan kayu jati ini merupakan salah satu bangunan yang mampu bertahan lama. Karena itu kawasan Istana Dalam Loka yang telah direnovasi akan dikembangkan sebagai aset wisata sejarah.
Menbudpar mengharapkan peninggalan bernilai sejarah ini tetap dipelihara karena merupakan warisan budaya bangsa yang harus tetap dipertahankan.
Menurut dia, Kesultanan Sumbawa memiliki sejarah yang panjang dalam kancah percaturan sejarah bangsa. Kalau ditelusuri dari sisi kesejarahan dengan berbagai dinamikanya, kesultanan ini telah ada jauh sebelum masa sejarah kolonial Belanda.
Dia mengatakan, pada masa penjajajahan, Kesultanan Sumbawa ini tetap eksis dan terus melestarikan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat Sumbawa.
"Nilai-nilai adat dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat ini menjadi kebanggaan kita semua. Karena itu peristiwa budaya penobatan Sultan Sumbawa yang digelar sekarang hendaknya dijadikan tonggak sejarah bagi masyarakat Indonesia khususnya Sumbawa," katanya.
Masyarakat Sumbawa sejak masa lalu hingga kini selalu mengedepankan kehidupan masyarakat yang beraneka ragam atau multikultur.
Keanekaragaman suku, bangsa, agama dan latar belakang budaya terdapat di daerah ini. "Jagalah keragaman ini dengan baik agar kehidupan yang penuh toleransi terus dijaga dalam keberagaman yang tetap harmonis," katanya.
Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH M Zainul Majdi menilai penobatan Sultan Muhammad Kaharuddin IV menjadi Sultan Sumbawa ke-17 merupakan peristiwa yang sarat nilai spritual.
"Prosesi penobatan diawali dengan pembacaan ayat Suci Al Quran hingga pembacaan doa. Ini amanah yang sangat berat dan hendaknya bisa diemban dengan baik," ujarnya.
Penobatan Sultan Sumbawa ini, menurut dia, berbeda dengan pengambilan sumpah seperti yang berlaku pada tata pemerintahan, tetapi lebih pada pelestarian nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat "Tau dan Tana Samawa".
Dalam konteks tersebut, katanya, bupati tetap menjadi kepala pemerintahan dan hendaknya Sultan dan bupati dapat berkolaborasi dengan baik.
Penobatan ini juga bisa menjadi mediasi antara Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat sehingga dapat menjadi mitra yang baik.
Gubernur Zainul Majdi mengharapkan upacara penobatan ini dapat mewujudkan "Tau dan Tana Samawa" yang religius dan demokratis, sebab tantangan ke depan semakin besar. (*)